menambah pemandangan semakin indah. Rangga mulai berdiri dari tempatnya, dia mengatakan sesuatu "Vini ratu bagi kerajaanku, mengapa semua ini harus terjadi di saat aku mulai mengerti tentang bagaimana menghargai cinta, menyayangi cinta, kenapa kau harus ditinggalkan aku seorang diri, tanpa memperdulikan rasa rindu dan sayangku padamu". "Kemarin kau masih bersamaku bercumbu dan merayu, adakah hari esok untuk kita berdua seperti yang telah kita lewati. Mengapa terlalu cepat kau pergi, tinggalkan batu nisan. Ku do'akan kau bahagia di sisiNya sementara biarkan aku menangis. Tiada guna aku hidup begini, tanpa belaian kekasih yang sangat ku sayangi, kepedihan yang kini ku rasakan, darimu yang mencintai aku". Mengapa terjadi pada diriku, aku tak percaya kau telah tiada. Masih ku ingat pertama saat kita bertemu, ku kecup keningmu dan kau pun tersenyum, dan masih ku ingat pertama saat hati menyatu ku belai rambutmu dan kau pun tertidur. Sesaat ia terdiam, tak lama kemudian air mata menetes di kedua belah pipinya yang tak habis terurai. "Allah aku tidak meragukan Mu. Pemandangan yang indah ini bisa seketika Kau buat luluh lantahkan dengan semburan gunung - gunung merapi Mu, dan ombak di lautan Mu yang tenang ini bisa seketika Kau buat jadi gelombang yang besar dan menenggelamkan segala apapun yang mengapung diatasnya, aku tidak Meragukan Mu. Bahkan bila Kau berkehendah Engkau juga bisa membuat matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur, tidak ada yang sulit buat Mu Allah. Jadi apa susahnya Allah Engkau menjodohkan aku dengan Vini, please Allah aku mohon dengan sangat, aku memang baru belajar agama, tapi aku juga hamba Mu kan? Hamba Mu yang juga berhak memohon pertolongan Mu, jadi please Allah aku mohon dengan sangat, mohon dengan sangat. Tapi kenapa Engkau tidak dapat memberikan kehidupan yang lebih panjang bagi Vini, bagi orang yang telah memberikan partikel terbesar dalam kisah hidupku, mengapa terlalu cepat Kau panggil dia, mengapa terlalu pagi kau jemput dia, karena masih teringat jelas bagiku lembut suaranya dan wajahnya tak dapat luput, gurauannya yang manja tetap dan akan tetap subur di sanubari. Baiklah kalau memang itu yang Engkau inginkan Allah". Sambil berteriak dan menatap mega Rangga mengatakannya. Kemudian Renal menepuk pundaknya dan berusaha menenangkan perasaan di hatinya, "Gemilanglah dua jiwa,